Penggunaan teknologi nuklir sebagai salah satu sumber energi terus menimbulkan kontroversi terutama berkaitan dengan aspek keamanannya. Citra negatif tentang reaktor nuklir sangat sulit untuk dihilangkan dari mindset masyarakat. Demikian disampaikan oleh Ir Meniek Rachmawati, peneliti muda pada Pusat Pusat Teknologi Bahan bakar Nuklir (PTBN) yang mewakili Indonesia dalam Technical Meeting on Pressurized Heavy Water Reactor (PHWR) di Buenos Aires pada tanggal 9-12 November 2009.
Kegiatan yang dihadiri oleh lebih kurang 30 peserta dari 9 negara yaitu Argentina, Canada, China, India, Indonesia, Korea, Norwegia, Pakistan dan Rumania ini diisi dengan presentasi dan tukar pandang mengenai status bahan bakar dan pemutakhiran disain, fabrikasi, dan operasi dari bahan bakar Reaktor Air Berat Bertekanan (Presurize Heavy Water Reactor/PHWR). Kegiatan ini dibuka oleh Presiden Komisi Nasional Energi Atom Argentin (CNEA), Norma Boero serta presentsi dari Kepala Seksi Siklus Bahan Bakar Nuklir dan Material, International International Atomic Energy Agency (IAEA), Gary Dyck.
Di dalam pertemuan ini, wakil Indonesia mempresentasikan hasil engineering dan pengembangan proses peralatan peletisasi di Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBN) yang mengikuti kecenderungan pengembangan bahan bakar PHWR dengan judul “Pelletizing Technology Development and Its Qualification for UO2 Pellet of PHWR Type in Indonesia”.
Menurut Meniek, kebutuhan akan energi yang semakin meningkat dan ketersediaannya yang semakin menipis serta pentingnya menjaga lingkungan tetap bersih dari gas buang akibat penggunaan energi telah telah mendorong BATAN untuk aktif melakukan pengkajian dan penelitian di bidang energi nuklir.
Kecenderungan pemilihan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) jenis Pressurised Water Reactor (PWR) merupakan pendorong dilakukannya pengembangan Experimental Fuel Element Installation (EFEI) – PTBN dari bahan bakar PHWR jenis CIRENE ke bahan bakar PHWR jenis CANDU. Hal ini merupakan pilihan yang baik dalam penanganan bahan nuklir. Perkembangan daur bahan bakar saat ini mengarah pada penggunaan bahan bakar bekas PWR untuk digunakan sebagai bahan bakar PHWR tipe CANDU (Direct Use of spent PWR In CANDU). Oleh karena itu daur bahan bakar DUPIC menguntungkan bagi Indonesia karena dapat menghindari penggunaan sumber uranium yang berlebihan dan mengingat Indonesia tidak mempunyai teknologi reprosesing bahan bakar konvensional.
Dengan kondisi demikian menurut Meniek, teknologi nuklir merupakan alternatif sumber energi yang aman dan relatif murah bagi Indonesia yang mulai mengalami krisis energi dimana dalam beberapa puluh tahun ke depan diperkirakan cadangan bahan bakar fosil akan habis.Upaya untuk memajukan energi nuklir sebagai sumber energi bagi Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Selain kebijakan dan kemantapan pemerintah untuk mendukung teknologi nuklir, tentunya diseminasi informasi dan pendidikan masyarakat sangat penting untuk mengubah persepsi masyarakat akan nuklir yang selama ini terkesan berbahaya dan menakutkan.
Upaya-upaya BATAN perlu mendapatkan dukungan semua pihak termasuk diantaranya KBRI sebagai jembatan antara BATAN dengan focal point negara setempat sehingga Indonesia senantiasa mengikuti perkembangan dan berperan secara aktif dalam pengembangan teknologi nuklir di dunia internasional.(D/L)
Anda ingin selalu mendapat berita terbaru?
DPS Pilpres PPLN Buenos Aires
Iklan Radio - Pemilu Versi Centang
Formulir Aplikasi Visa
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-2/PJ/2009

versi cetak
Dalam bahasa Spanyol?